Penggunaan bubble wrap aluminium foil semakin populer sebagai solusi penurun panas untuk toko dan ruko. Material ini dinilai praktis, relatif terjangkau, dan efektif menurunkan suhu ruangan. Namun, tidak sedikit pemilik toko justru mengalami masalah baru setelah pemasangan, mulai dari air menggenang, kebocoran, hingga tetesan air mendadak dari plafon.

Masalah tersebut sering disalahartikan sebagai cacat produk, padahal dalam banyak kasus, penyebab utamanya adalah skema pemasangan yang tidak sesuai dengan jenis atap. Artikel ini membahas secara lengkap cara kerja bubble foil, potensi risikonya, serta panduan pemasangan paling aman dan efektif berdasarkan jenis atap, termasuk atap asbes yang paling sering menimbulkan kendala.

Apa Itu Bubble Wrap Aluminium Foil dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Bubble wrap aluminium foil adalah material insulasi panas yang terdiri dari lapisan aluminium reflektif dan lapisan bubble (gelembung udara). Aluminium berfungsi memantulkan panas radiasi matahari, sementara bubble berfungsi sebagai isolator udara yang memperlambat perpindahan panas ke dalam ruangan.

Pada bangunan toko dengan atap metal atau asbes, panas matahari sangat cepat masuk dan membuat ruangan terasa pengap. Dengan pemasangan yang tepat, bubble foil mampu menurunkan suhu ruangan sekitar 3–7 derajat Celsius, tergantung jenis atap, luas bangunan, serta adanya ventilasi. Namun perlu dipahami sejak awal, bubble foil bersifat kedap air. Inilah yang membuatnya efektif sebagai insulasi, sekaligus berpotensi menjadi masalah bila dipasang di lokasi yang salah.

Kenapa Bubble Foil Bisa Menyebabkan Air Menggenang dan Bocor?

Banyak kasus kebocoran setelah pemasangan bubble foil sebenarnya disebabkan oleh tiga faktor utama.

Pertama adalah kebocoran mikro pada atap. Sekrup, sambungan, atau pori material atap sering kali sudah tidak kedap sempurna. Air hujan yang semula jatuh bebas ke bawah akan tertahan ketika bertemu lapisan foil.

Kedua adalah kondensasi atau embun. Perbedaan suhu siang dan malam menyebabkan uap air mengembun di bagian bawah atap. Tanpa rongga udara dan ventilasi, embun ini menetes dan tertahan di atas foil.

Ketiga adalah pemasangan datar tanpa kemiringan dan drainase. Bubble foil yang dipasang rata, cekung, atau ditutup rapat di semua sisi tidak memberi jalur keluar bagi air.

Karena itu, pemasangan bubble foil tidak bisa disamakan untuk semua jenis atap.

Prinsip Dasar Pemasangan Bubble Foil yang Benar

Sebelum membahas tiap jenis atap, ada prinsip teknis yang harus dipenuhi: Bubble foil tidak boleh menempel langsung pada atap yang berpotensi bocor. Harus ada rongga udara antara atap dan foil. Foil wajib mengikuti kemiringan atap, bukan dipasang datar. Dan yang paling sering diabaikan, jalur drainase air harus tersedia.

Tanpa prinsip ini, fungsi insulasi memang bekerja, tetapi risikonya jauh lebih besar dibanding manfaatnya.

Skema Pemasangan Bubble Wrap Aluminium Foil Berdasarkan Jenis Atap

  • Atap Spandek: Paling Efektif untuk Bubble Foil

Atap spandek merupakan penghantar panas yang sangat cepat. Karena itu, bubble foil bekerja paling optimal pada jenis atap ini. Skema yang direkomendasikan adalah atap spandek di bagian atas, lalu rongga udara sekitar 2 – 5 cm, kemudian bubble foil dipasang di bawahnya menggunakan rangka, dilanjutkan dengan plafon jika diperlukan. Rongga udara ini berfungsi mengurangi panas sekaligus mencegah air dan embun tertahan langsung di foil. Jika bubble foil ditempel langsung ke spandek, hampir dipastikan air dari sekrup atau sambungan akan menggenang di atas foil.

  • Atap Galvalum: Paling Stabil dan Aman Jangka Panjang

Galvalum memiliki karakter lebih tebal dan stabil dibanding spandek. Panas tetap tinggi, tetapi risiko kondensasi relatif lebih rendah. Skema pemasangannya serupa dengan spandek, dengan rongga udara ideal 3–5 cm dan tambahan ventilasi atap. Bubble foil dipasang dengan sisi aluminium menghadap sumber panas. Kombinasi galvalum dan bubble foil yang dipasang dengan rangka merupakan opsi paling aman untuk toko yang beroperasi harian.

  • Atap Seng Lama: Bisa Dipakai, Tapi Perlu Perhatian Khusus

Atap seng lama sering memiliki banyak titik bocor mikro. Karena itu, bubble foil tidak dianjurkan dipasang langsung di bawah seng. Skema aman adalah seng di bagian atas, rongga udara, lalu bubble foil yang dipasang di rangka plafon. Selain itu, perlu disiapkan jalur drainase agar air yang masuk tidak tertahan di satu titik. Jika atap seng belum diperbaiki dan bubble foil langsung ditempel, risiko genangan air sangat tinggi.

  • Atap Beton Dak: Efektif sebagai Tambahan

Atap beton dak menyimpan panas dalam struktur bangunan. Bubble foil tidak mampu menghentikan panas struktural ini sepenuhnya. Skema yang benar adalah memasang bubble foil di atas plafon gantung, bukan ditempel langsung ke beton. Dengan cara ini, panas radiasi ke bawah berkurang, meskipun suhu beton tetap tinggi. Pada dak beton, bubble foil sebaiknya dianggap sebagai solusi pendukung, bukan solusi utama.

  • Atap Asbes: Tidak Boleh Dipasang Langsung

Atap asbes adalah jenis atap paling berisiko jika dipadukan dengan bubble foil. Materialnya berpori dan sering mengalami rembesan halus yang tidak terlihat. Bubble foil tidak boleh dipasang langsung di bawah asbes. Skema paling aman adalah asbes di bagian atas, kemudian rongga udara cukup besar (10–20 cm), rangka plafon, bubble foil, dan plafon. Dengan skema ini, air bocor tidak tertahan di foil, sementara panas radiasi tetap berkurang sebelum masuk ke ruangan. Jika memungkinkan, mengganti atap asbes dengan spandek atau galvalum merupakan solusi jangka panjang yang jauh lebih aman.

Kesalahan Pemasangan yang Paling Sering Terjadi

Kesalahan paling umum adalah memasang bubble foil datar tanpa kemiringan, menempelkan foil langsung ke atap bocor, menutup semua sisi foil tanpa drainase, dan tidak menyediakan rongga udara. Kesalahan inilah yang membuat bubble foil dianggap “menyebabkan bocor”, padahal akar masalahnya ada pada metode pemasangan.

Kesimpulan: Bubble Foil Efektif Jika Skemanya Tepat

Bubble wrap aluminium foil adalah solusi penurun panas yang efektif untuk toko dan ruko, asal dipasang sesuai jenis atapnya. Pada atap spandek dan galvalum, sistem rangka dengan rongga udara adalah pilihan terbaik. Untuk bangunan lama dengan seng atau asbes, bubble foil harus diposisikan di plafon, bukan menempel langsung ke atap.

Dengan skema yang tepat, suhu toko lebih sejuk, risiko kebocoran terkendali, dan umur bangunan lebih panjang. Sebaliknya, pemasangan yang keliru justru menimbulkan masalah baru yang merugikan operasional toko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *