Mari kita pikirkan ini sejenak. Ada berapa banyak orang yang kuliah bisnis, kemudian lulus, lalu berbisnis dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat? Bisa jadi banyak dan tidak terhitung. Bisa jadi, karena ada yang tidak selaras antara “ilmu bisnis yang dipelajari di kelas” dan “cara hidup yang dijalani di luar kelas”. Nah, kuliah bisnis islami hasil dari pengamatan mengenai hal ini.
Bukan berarti bahwa bisnis konvensional itu buruk. Tapi ada satu hal yang luput dari pemikiran kita, yaitu: kesadaran bahwa cara mencari uang itu sama pentingnya dengan berapa banyak uang yang dihasilkan. Di sinilah pendidikan bisnis berbasis nilai-nilai keislaman mengambil peranan.
Bukan Sekadar Embel-embel “Islami”
Kebanyakan orang salah memahami hal ini. Mereka mengira kuliah bisnis islami itu cuma bisnis biasa yang dibalut dengan ceramah agama sesekali. Namun pada kenyataannya lebih dari itu. Yang dipelajari justru prinsip berdagang atau berjualan yang benar sesuai dengan kaidah Fiqh Muamalah : bagaimana akad jual-beli yang benar, bagaimana kejujuran jadi prinsip dasar seseorang dalam melakukan jual-beli, dan bagaimana keberkahan diukur bukan dari angka di rekening.
Kejujuran merupakan prinsip dasar seorang muslim dalam melakukan muamalah (jual-beli). Kejujuran dapat menyelamatkan seseorang dari keburukan, yaitu berbuat zalim dalam melakukan jual-beli sehingga dapat merugikan bisnisnya di waktu mendatang serta hilangnya keberkahan harta yang didapatkan dari jual-beli tersebut.
Praktik Dulu, Baru Teori Mengejar
Salah satu ciri yang cukup mencolok dari kampus-kampus bisnis berbasis islami, khususnya yang model pembelajarannya menekankan praktik langsung, adalah porsi belajar di lapangan yang jauh lebih besar dibanding kelas teori. Mahasiswa dituntut merintis usaha sejak semester-semester awal, bukan menunggu skripsi kelar dulu baru berani coba-coba jualan.
Kampus Bisnis Umar Usman jadi salah satu contoh yang cukup dikenal soal pendekatan ini. Sejak berdiri, kampus yang berada di bawah naungan Dompet Dhuafa ini memang dirancang untuk mencetak pengusaha, bukan sekadar lulusan yang paham teori pemasaran. Rasio antara praktik dan teori dibuat berat sebelah secara sengaja, jauh lebih banyak praktiknya. Mahasiswa dibimbing mentor yang benar-benar berbisnis, bukan cuma dosen yang mengajarkan dari buku.
Bisnis adalah keterampilan, bukan hafalan. Kamu nggak bisa belajar berenang dari membaca buku tentang gaya bebas, melainkan kamu harus mencoba berenang di kolam terlebih dahulu.
Kenapa Sekarang Makin Diminati?
Beberapa tahun terakhir, minat terhadap pendidikan bisnis berbasis nilai keislaman terus naik. Ada beberapa alasan yang saling tumpang tindih di sini.
Pertama, generasi muda muslim makin sadar bahwa mereka ingin usaha yang berkah, bukan cuma usaha yang untung besar tapi bikin resah di hati. Kedua, ekonomi syariah di Indonesia sendiri sedang tumbuh, jadi kebutuhan tenaga kerja dan pengusaha yang paham prinsip syariah juga ikut naik. Ketiga—dan ini yang jarang dibahas—komunitas. Kuliah di lingkungan yang sevisi itu bikin proses belajar jadi terasa lebih ringan. Ada teman seperjuangan, ada mentor yang bisa ditanya kapan saja, dan ada rasa “kita sama-sama lagi belajar jadi lebih baik” yang belum tentu didapat di tempat lain.
Jaringan juga jadi nilai tambah yang sering diremehkan calon mahasiswa. Padahal, di dunia usaha, siapa yang kamu kenal kadang sama pentingnya dengan apa yang kamu tahu.
Tantangannya Juga Ada, Jangan Naif
Nggak semua hal berjalan mulus, tentu saja. Menjalankan bisnis dengan prinsip syariah kadang berarti menolak peluang yang secara angka menggiurkan tapi bertentangan dengan prinsip dasar seorang muslim ketika melakukan jual-beli. Butuh keberanian untuk itu. Belum lagi tantangan klasik: modal terbatas, pasar yang kompetitif, dan godaan untuk main aman dengan meniru model bisnis konvensional yang sudah terbukti laku.
Tapi justru di situlah pendidikan berperan. Bukan cuma mengajarkan cara berdagang, tapi juga membentuk mental yang siap menghadapi dilema-dilema semacam itu sebelum benar-benar terjun ke lapangan.
Jadi, Perlu Nggak Sih Kuliah di Jurusan Ini?
Tergantung apa yang kamu cari. Kalau tujuannya cuma gelar dan koneksi kerja di perusahaan besar, mungkin jalur ini bukan yang paling cocok. Tapi kalau kamu memang ingin merintis usaha sendiri, dengan fondasi nilai yang jelas dan lingkungan yang mendukung proses coba-gagal-coba lagi, kuliah bisnis islami layak dipertimbangkan serius.
Salah satu tempat yang bisa dilirik adalah Kampus Bisnis Umar Usman, yang sejak 2012 fokus mencetak wirausaha muda muslim lewat kurikulum aplikatif dan pendampingan mentor. Buat yang penasaran seperti apa program dan skema pendaftarannya, informasi lebih lengkap bisa dicek langsung di situs resminya.
Pada akhirnya, bisnis yang baik itu bukan cuma soal seberapa besar omzetnya, tapi seberapa tenang hati orang yang menjalankannya.